Selama praktek, hampir tiap hari berjalan di lorong-lorong rumah sakit. Hanya lorong ini yang menjadi akses menuju ruang-ruang rawat inap. Begitu juga di dalam ruangan, lorong-lorong ruangan ini yang harus di lalui untuk sampai pada klien. Awalnya ada perasaan janggal saat melalui hari-hari seperti itu, belum lagi dari dekorasi ruang yg rata-rata "dekorasi lama" dari jaman belanda. Ini agak membuat "merinding" memang. Namun nanti beginilah dunia kerja yang akan di jalani setiap hari, inilah yang akan dihadapi dalam situasi-situasi klinis. Tidak ingin merasa terbebani dengan "dunia" sendiri, hanya ingin menemukan "titik senang" dari bagian keilmuan ini. Karena ada satu kepuasan saat kembali dari ruangan dan lorong-lorong itu, kepuasan karena telah menolong orang lain, bisa membantunya menjadi mandiri.
Rabu, 23 November 2011
Senin, 21 November 2011
Ikhlas Itu Proses; Harapan tak Selamanya Berjalan Sesuai Rencana
Setiap manusia memiliki 5 tahap respon psikologis dalam dirinya ketika mengalami sesuatu masalah atau keadaan. Mulai dari fase penolakan, marah, tawar menawar, depresi, dan penerimaan. Ikhlas sendiri ada setelah kita melewati tahap penerimaan. Manusia tidak akan berusaha menerima setiap keadaan yang menimpa dirinya ketika dia sendiri belum mampu menerima keadaan tersebut.
Berusaha menjadi ikhlas memang tidak mudah, namun keadaan ini akan jauh lebih indah jika dibandingkan dengan terus "berperang" dengan diri sendiri dan tidak menerima kenyataan bahwa dunia yang tidak akan selalu sama dengan keinginan kita.
Belajar menjadi ikhlas adalah saat dimana kita merasa kecewa dengan keadaan namun hanya berserah kepada Tuhanlah satu-satunya jalan agar kita mampu mengerti dan mampu menerima bahwa itu adalah jalan yang terbaik untuk kita. Tuhan selalu tau apa yang terbaik untuk umat-Nya..
Aku Belajar Bagaimana Menjadi Bersyukur
Pertama kali praktek di rumah sakit sungguh banyak memberikan arti kehidupan kepadaku. Banyak hal yang yang seharusnya disyukuri dibandingkan orang-orang yang terbaring lemah di ruang-ruang rumah sakit itu. Jangankan untuk memiliki keinginan yang berlebihan dalam arti global, mungkin menjadi mandiri secara kebutuhan dasar manusia saja sudah menjadi hadiah yang besar bagi mereka.
Berbicara mengenai kebutuhan dasar, pernahkah kita berpikir untuk bersyukur sudah dapat menghirup oksigen dengan mudah tanpa harus berjuang dan merasakan sakit? Pernahkan kita bersyukur sudah memiliki anggota gerak yang dapat bergerak secara sempurna? Kita dapat beraktivitas tanpa perlu khawatir ternganggunya metobolisme di dalam tubuh kita. Ini masih berbicara tentang keadaan fisik, belum secara sosial, spiritual, dan kejiwaan. Begitu kompleksnya Tuhan menciptakan kita yang masih bisa merasakan nikmatnya kesehatan, bersyukurlah karena kita masih jauh lebih beruntung daripada mereka.
Berbicara mengenai kebutuhan dasar, pernahkah kita berpikir untuk bersyukur sudah dapat menghirup oksigen dengan mudah tanpa harus berjuang dan merasakan sakit? Pernahkan kita bersyukur sudah memiliki anggota gerak yang dapat bergerak secara sempurna? Kita dapat beraktivitas tanpa perlu khawatir ternganggunya metobolisme di dalam tubuh kita. Ini masih berbicara tentang keadaan fisik, belum secara sosial, spiritual, dan kejiwaan. Begitu kompleksnya Tuhan menciptakan kita yang masih bisa merasakan nikmatnya kesehatan, bersyukurlah karena kita masih jauh lebih beruntung daripada mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)

